Ehime mencatat pertumbuhan tertinggi
Prefektur Ehime mencatat pertumbuhan paling tinggi. Pada 2025, jumlah malam menginap wisatawan asing mencapai sekitar 580.000 malam, atau 2,7 kali lipat dibandingkan 2019.
Di posisi berikutnya ada Ishikawa, dengan sekitar 2,14 juta malam, atau 2,2 kali lipat dibandingkan 2019. Sementara itu, Tokyo mencapai sekitar 60,12 juta malam, atau dua kali lipat dibandingkan level 2019.
Menariknya, Ehime berhasil menarik lebih banyak wisatawan melalui strategi golf tourism. Sejak tahun fiskal 2023, Ehime mulai mempromosikan wisata golf, terutama untuk wisatawan dari Korea Selatan.
Selama pandemi, golf semakin populer di Korea Selatan. Kondisi musim dingin yang sangat dingin serta biaya bermain golf yang relatif mahal di Korea membuat Jepang menjadi salah satu alternatif menarik.
Pada 2025, jumlah wisatawan Korea Selatan yang menginap di Ehime mencapai sekitar 204.000 orang, atau sekitar enam kali lipat dibandingkan 2019.
Menurut pemerintah Prefektur Ehime, wisatawan yang sudah beberapa kali berkunjung ke Jepang biasanya sudah mengenal destinasi populer seperti Tokyo dan Kyoto. Karena itu, mereka mulai mencari kota-kota regional yang menawarkan pengalaman lebih santai.
Ehime juga memiliki keunggulan dari sisi akses. Terdapat sekitar 16 lapangan golf yang dapat dicapai dalam waktu satu jam dari Matsuyama Airport, sehingga wisatawan dapat menggabungkan aktivitas golf dengan mengunjungi berbagai tempat wisata di sekitarnya.
Ishikawa juga semakin populer
Prefektur Ishikawa juga mengalami peningkatan signifikan. Kanazawa, ibu kota prefektur ini, sudah lama dikenal wisatawan asing berkat Kenrokuen, salah satu dari tiga taman paling terkenal di Jepang, serta kawasan kota bersejarahnya.
Akses menuju wilayah ini semakin mudah setelah Hokuriku Shinkansen diperpanjang hingga Kanazawa pada 2015.
Menurut pemerintah Prefektur Ishikawa, peningkatan jumlah wisatawan kemungkinan tidak hanya disebabkan oleh pemulihan pariwisata setelah pandemi, tetapi juga karena semakin populernya rute perjalanan yang mengeksplorasi destinasi di sepanjang pesisir Laut Jepang.
Tidak semua wilayah mengalami pertumbuhan
Meskipun sebagian besar prefektur sudah melampaui angka sebelum pandemi, beberapa wilayah justru masih mengalami penurunan.
Saga Prefecture mencatat penurunan terbesar, yaitu sekitar 30% dibandingkan 2019. Setelah itu ada Shiga, yang turun 27,3%, dan Miyazaki, yang turun 19,4%.
Data ini menunjukkan bahwa pemulihan pariwisata asing di Jepang tidak terjadi secara merata. Beberapa daerah berhasil memanfaatkan tren baru dalam perjalanan wisata, sementara daerah lainnya masih berusaha mengembalikan jumlah wisatawan asing ke level sebelum pandemi.
Apa artinya bagi pasar properti Jepang?
Meningkatnya jumlah wisatawan asing yang menginap di berbagai prefektur Jepang juga menarik untuk diperhatikan dari sisi investasi properti.
Selama wisatawan semakin banyak mencari destinasi di luar Tokyo dan Kyoto, wilayah regional yang memiliki akses transportasi baik, destinasi wisata menarik, serta fasilitas yang mendukung wisatawan berpotensi mendapatkan manfaat dari pertumbuhan pariwisata.
Namun, peningkatan jumlah wisatawan tidak otomatis berarti semua properti di wilayah tersebut akan memberikan return yang tinggi. Investor tetap perlu melihat lokasi, akses transportasi, regulasi short-term rental, tingkat okupansi, harga properti, biaya operasional, serta permintaan wisatawan sebelum mengambil keputusan investasi.
Tren ini setidaknya menunjukkan satu hal: popularitas Jepang di kalangan wisatawan asing semakin menyebar ke berbagai wilayah regional, bukan hanya terpusat di kota-kota besar seperti Tokyo dan Kyoto.





